Senin, 25 Januari 2016

Situs Astana Gedong Tulungagung

Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan 

Participant : Galy, Kcing
Dari namanya, situs Astono Gedong memang terkesan mirip dengan situs Setono Gedong, tapi jangan salah jika sesungguhnya keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Seperti yang telah dibahas dalam posting kami terdahulu, Setono Gedong merupakan sebuah situs di Kediri yang erat kaitannya dengan legenda Mbah Wasil. Nah.. Sedangkan Situs Astono Gedong merupakan sebuah komplek pemakaman kuno lintas kerajaan di Tulungagung. Pingin tau gimana bisa disebut lintas kerajaan?? berikut ulasannya.
Secara administratif Situs Astono Gedong terletak di Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung. Situs ini merupakan komplek pemakaman Hindu-Islam, dengan tiga pembagian halaman yaitu halaman paling luar disebut Pendopo, halaman tengah disebut dengan Kampung dan halaman belakang disebut Dalem. Halaman Dalem merupakan halaman utama dengan makam-makam utama di dalamnya. Makam-makam utama yang dapat dijumpai antara lain adalah makam Raden Lemboeroe atau Raden Ketawengan yang dipercaya merupakan keturunan raja Majapahit, serta makam makam dari Mangku Bumi. Makam Raden Ketawengan beserta para pengiringnya menunjukkan ciri Demak-Troloyo yang identik dengan makam-makam Islam era Majapahit, sedangkan makam Mangku Bumi ditandai dengan adanya kronogram yang ditulis dengan huruf arab serta keberadaan pohon nogosaren. Keberadaan pohon nogosari menjadi ciri khas makam raja-raja Islam di Jawa.
Sedikit bergeser ke pagar Pendopo, dapat dijumpai adanya tinggalan masa Hindu Budha berupa dua buah lingga. Tinggalan Hindu Budha lainnya juga pernah ditemukan di situs ini, yaitu arca budha aksobya dari era Kadiri yang saat ini disimpan di Museum Daerah Tulungagung. Berdasarkan temuan-temuan tersebut diketahui bahwa situs Astono Gedong merupakan sebuah situs lintas kerajaan, mulai dari kerajaan Hindu Budha hingga kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Perjalanan menelusuri situs Astono Gedong ini memang sarat dengan makna. Selain dapat menjumpai tinggalan-tinggalan dari lintas kerajaan, ada makna pelestarian yang tersirat pada situs ini, yakni upaya mempertahankan keberadaan tinggalan dari kerajaan-kerajaan terdahulu yang dilakukan oleh raja-raja yang bertahta pada periode yang lebih akhir.  Terlepas dari unsur legitimasi, tapi sikap itu pantas untuk kita teladani sebagai generasi pendukung budaya bangsa.
——————————————————————————————————————————————-
Writer : Galy Hardyta
Revisi terakhir : –
Sumber :
  • Juru kunci Situs Astono Gedong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar