Situs Astono Gedong, Napak Tilas Lintas Kerajaan
Dari namanya, situs Astono Gedong memang terkesan mirip dengan situs Setono Gedong,
tapi jangan salah jika sesungguhnya keduanya memiliki perbedaan yang
jelas. Seperti yang telah dibahas dalam posting kami terdahulu, Setono
Gedong merupakan sebuah situs di Kediri yang erat kaitannya dengan
legenda Mbah Wasil. Nah.. Sedangkan Situs Astono Gedong merupakan sebuah
komplek pemakaman kuno lintas kerajaan di Tulungagung. Pingin tau
gimana bisa disebut lintas kerajaan?? berikut ulasannya.
Secara
administratif Situs Astono Gedong terletak di Desa Sukodono, Kecamatan
Karangrejo, Tulungagung. Situs ini merupakan komplek pemakaman
Hindu-Islam, dengan tiga pembagian halaman yaitu halaman paling luar
disebut Pendopo, halaman tengah disebut dengan Kampung dan halaman belakang disebut Dalem. Halaman Dalem
merupakan halaman utama dengan makam-makam utama di dalamnya.
Makam-makam utama yang dapat dijumpai antara lain adalah makam Raden
Lemboeroe atau Raden Ketawengan yang dipercaya merupakan keturunan raja
Majapahit, serta makam makam dari Mangku Bumi. Makam Raden Ketawengan
beserta para pengiringnya menunjukkan ciri Demak-Troloyo yang identik
dengan makam-makam Islam era Majapahit, sedangkan makam Mangku Bumi
ditandai dengan adanya kronogram yang ditulis dengan huruf arab serta
keberadaan pohon nogosaren. Keberadaan pohon nogosari menjadi ciri khas
makam raja-raja Islam di Jawa.
Sedikit bergeser ke pagar Pendopo,
dapat dijumpai adanya tinggalan masa Hindu Budha berupa dua buah
lingga. Tinggalan Hindu Budha lainnya juga pernah ditemukan di situs
ini, yaitu arca budha aksobya dari era Kadiri yang saat ini disimpan di Museum Daerah Tulungagung.
Berdasarkan temuan-temuan tersebut diketahui bahwa situs Astono Gedong
merupakan sebuah situs lintas kerajaan, mulai dari kerajaan Hindu Budha
hingga kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Perjalanan menelusuri situs Astono Gedong
ini memang sarat dengan makna. Selain dapat menjumpai
tinggalan-tinggalan dari lintas kerajaan, ada makna pelestarian yang
tersirat pada situs ini, yakni upaya mempertahankan keberadaan tinggalan
dari kerajaan-kerajaan terdahulu yang dilakukan oleh raja-raja yang
bertahta pada periode yang lebih akhir. Terlepas dari unsur legitimasi,
tapi sikap itu pantas untuk kita teladani sebagai generasi pendukung
budaya bangsa.
——————————————————————————————————————————————-
Writer : Galy HardytaRevisi terakhir : –
Sumber :
- Juru kunci Situs Astono Gedong


Tidak ada komentar:
Posting Komentar